123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

sahabat itu sulit sekali dicari, jadi jangan pernah menyia-nyiakan sahabatmu

Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2019

Tantangan Dakwah Zaman Now

Oleh: Rara Seruni
"Aliif Laam Miim. Adakah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji. Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Lantaran itu Allah mesti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta”.  Al-Ankabut: 1-3
            Jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga, tetapi merupakan satu jalan yang susah dan panjang. Karena sesungguhnya antara yang hak dengan batil ada pertentangan yang nyata. Ia memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul bebanan yang berat. Ia memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera tanpa putus asa dan  putus harapan. Yang diperlukan ialah usaha dan kerja yang berterusan dan hasilnya terserah kepada Allah di waktu yang dikehendakiNya.
Di era globalisasi ini, di zaman yang semakin maju, perkembangan yang silih berganti membuat dakwah lebih mudah disampaikan pada sasaran dakwah. Tapi tidak hanya itu, perkembangan zaman ini juga menimbulkan banyak tantangan dalam dakwah. Bebasnya mendapatkan informasi serta ilmu melalui internet membuat pemuda muslim “zaman now” terlena bahkan kehilangan jati diri nya sebagai seorang muslim karena tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Yang salah terlihat benar karena banyak yang mengikuti sedang yang benar terlihat salah karena sedikit yang mengikuti. Sangat penting memiliki prinsip serta aqidah yang lurus di “zaman now” ini.
Dakwah ini dimulai dari tauhid. Tapi kalimat ini tak dapat disederhanakan menjadi “dakwah ini dimulai dengan kajian tentang tauhid” (Fillah, 2016). Tauhid harus dimiliki seluruh manusia yang mengatakan dirinya beriman. Dua kalimat syahadat (syahadatain) “Laa ilaha illallah muhammadur rasulullah” merupakan syahadat tauhid, yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan syahadat risalah yaitu persaksian bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Syadatain adalah pondasi utama. Di atasnya dibangun aqidah islam yang shalih, akhlak yang mulia dan ibadah yang benar.
            Namun saat ini yang sering kita temukan adalah orang yang mengatakan dirinya beriman, berislam tetapi tidak paham benar apa yang dimaksud dengan tauhid. Mereka tidak paham apa makna dari dua kalimat syahadat. Paham bukan berarti tidak mengetahui apa arti dari kalimat tersebut, mereka tahu artinya namun tidak tahu makna dari dua kalimat syahadat. Bahkan dapat kita temukan manusia yang memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu ada banyak tapi hanya Allah yang patut untuk disembah. Pemahaman yang salah bukan? Seperti pemahaman agama lain. Innalillah. Inilah salah satu tantangan dakwah saat ini, dimana kita sebagai da’i harus “masuk” ke dalam orang-orang saat ini untuk meluruskan pemahaman mereka.
            Pemahaman yang kurang tentang agama sendiri yang saat ini banyak dialami oleh pemuda-pemuda islam menjadi tantangan luar biasa dalam dakwah. Sebagai da’i kita tidak bisa langsung men”judge” target dakwah kita hanya karena pemahaman mereka yang berbeda, justru mereka membutuhkan kita untuk dapat meluruskan pemahaman agama mereka. Karena terlalu banyaknya sumber informasi yang mereka dapatkan, menyebabkan mereka bingung yang mana yang benar dan yang salah sedang mereka tidak dapat menyaring informasi yang mereka dapatkan karena pemahaman yang kurang.
            Mengapa pemahaman agama pemuda muslim “zaman now” kurang? Penyebab pertama adalah didikan orangtua mereka, karena orangtua sudah jelas “guru” pertama mereka. Jika di rumah mereka sudah diberi pemahaman yang benar oleh kedua orangtua mereka tentu mereka dapat menyaring informasi yang mereka dapat di dunia maya bahkan dunia nyata. Tetapi, sedikit mungkin orangtua yang sempat untuk menanamkan pemahaman agama untuk anak-anaknya, bisa karena kesibukan kedua orangtua mereka, bisa juga karena kurangnya pemahaman agama orangtua mereka. Selain itu, jika berharap pelajaran agama di sekolah mereka, jika mereka bersekolah di sekolah umum (bukan pesantren atau sekolah islam) maka pelajaran agama islam hanya akan mereka dapatkan 90 menit dalam satu pekan. Bersyukur jika mereka mengikuti kegiatan ekskul rohis di sekolah, masih ada tambahan pemahaman agama yang mereka dapatkan, tapi jika tidak? Maka banyak saat ini jika kita temukan pelajar bahkan orang dewasa (muslim) yang tidak bisa baca al-qur’an atau shalat 5 waktunya masih bolong-bolong.

            Oleh karena itu, wajiblah setiap orang yang melalui jalan dakwah ini mempersiapkan dan memantapkan dirinya di atas jalan dakwah, walau bagaimana pun susahnya. Kita harus dapat memahami bahwa untuk menyeru manusia kepada perkara yang berlainan dengan kehendak nafsu mereka bukanlah satu perkara yang mudah. Lantaran itu, para da'i mestilah bersabar dan terus bersabar dalam menyampaikan dakwah walaupun sasaran dakwah berpaling darinya atau tidak memberi perhatian terhadap dakwahnya. Kita mengambil teladan dan qudwah hasanah pada diri Rasulullah S.A.W. dalam urusan dakwah ini. Melalui sejarah Rasulullah, kita mengetahui bahwa beliau terus menawarkan diri dan dakwahnya kepada kabilah-kabilah dan suku-suku bangsa Arab di pasar-pasar walaupun mereka berpaling dari beliau malah mereka mengolok-olok dan mengganggu beliau.

            Tantangan lain yaitu masih banyaknya manusia yang cinta dunia sehingga menghalalkan segala cara untuk “terkenal” atau mendapatkan harta bahkan kekuasaan. Tantangan ini memerlukan penguasaan yang keras karena daya tarikannya juga sangat keras. Ketika waktu, usaha, kegiatan, tenaga pemikiran ditumpukan untuk mencari harta. Akhirnya manusia menjadi alat harta dan dikuasai oleh harta. Sesungguhnya mencari harta yang halal itu tidak apa, tetapi ia bukanlah merupakan tujuan yang besar di mana ia menumpukan segala pemikiran dan ilmu semata-mata untuk mendapatkan harta. Ketika Tuhan mereka berganti menjadi uang maka demi mendapatkan uang pun mereka rela melepas keimanan mereka. Naudzubillah! Tidak hanya harta, kekuasaan pun demikian. Demi mendapatkan kekuasaan, manusia rela untuk keluar dari jalan dakwah, keluar dari barisan. Keegoisan dan cinta dunia yang merasuki umat saat ini membuat umat islam sulit untuk bersatu. Bagaimana ingin menyatukan umat jika barisan kita sendiri bercerai berai? Miris. Tapi, begitulah tantangan dakwah ini. Hanya yang kuat yang bisa bertahan. Bertahan untuk tetap pada barisan apapun rasanya, resikonya.

            Selain itu perbedaan pendapat umat islam sendiri juga menjadi tantangan dakwah zaman now. Ketika umat saling menyalahkan hanya karena perbedaan pendapat hal-hal yang tidak menyangkut aqidah. Kita adalah manusia yang kadangkala benar, kadangkala salah dan kadangkala berbeda pendapat. Ini merupakan perkara biasa bagi yang bekerja dan berusaha di dalam suatu bidang. Tetapi, di bawah naungan cinta, kasih sayang dan persaudaraan karena Allah, dorongan ikhlas dan tajarrud (membulatkan diri karena Allah), segala kesalahan dapat dimaafkan, perbedaan pendapat dapat diperbaiki. Perbedaan pendapat pada suatu perkara bukan suatu masalah besar selagi tidak menyangkut aqidah. Tetapi jika ditonjolkan oleh orang-orang yang tertentu yang mempunyai kepentingan lalu dikobarkan di dalam suasana marah kerana membela diri ditambah lagi rasa bangga di dalam melakukan dosa dan mengampu orang-orang yang tertentu yang dapat merugikan dakwah. Maka di sinilah syaitan ikut campur dan akan melahirkan perpecahan. Akhirnya segala usaha menjadi hancur berantakan, waktu dihabiskan dalam perselisihan. Jika perkara seperti ini terus terjadi dan berulang maka dakwah dan kepentingannya akan dikorbankan.

            Mendapati begitu banyaknya tantangan dakwah zaman now seharusnya tidak menyurutkan langkah kita untuk terus berjalan di jalan dakwah ini. Justru segala tantangan itu membuat kita semakin semangat, semangat memperbaiki diri, menguatkan keimanan agar dapat memberi lebih untuk sasaran dakwah kita. Kita harus sadar bahwa perubahan yang kita harapkan tidak akan terjadi dengan mudah.

"Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi kebaikan kepada manusia, maka dia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ". (Q.S. Ar-Ra'ad : 17)
Kita hendaklah percaya kepada bantuan Allah. Hendaklah kita percaya kepada agama kita bahwa inilah agama yang hak, agama yang benar. Hendaklah kita percaya pada jalan dakwah Islam, inilah jalan Rasulullah S.A.W. Marilah kita percaya bahwa masa depan adalah untuk Islam. Marilah kita percaya pada diri kita, marilah kita beramal dan berusaha terus hingga terbukti janji Allah. Karena janji Allah itu pasti!

Refrensi : Buku Fiqh  Dakwah Syaikh Mushtafa Masyhur

Jumat, 01 Desember 2017

Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Kimia

“Chemistry is one of the most important branches of science; it enables learners to understand what happened around them. Because chemistry topics are generally related to or based on the structure of matter, chemistry proves a difficult subject for many students. Chemistry curricula commonly incorporate many abstract concepts, which are central to further learning in both chemistry and other sciences (Taber, 2002).”
Kimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling penting; kimia membuat peserta didik mengerti apa yang terjadi di sekitar mereka. Karena topik kimia pada umumnya berhubungan dengan struktur materi, kimia menjadi mata pelajaran yang sulit bagi banyak siswa. Kurikulum kimia umumnya menggabungkan banyak konsep abstrak, yang penting untuk dipelajari lebih lanjut dalam bidang kimia dan sains lainnya. (Taber, 2002).

Kamis, 14 Maret 2013

Teh Celup

Manusia seperti teh celup, keistimewaannya baru terlihat setelah dimasukkan dalam air panas.
Terkadang Allah memang harus mendorong kita untuk masuk dalam berbagai situasi yang tidak kita sukai dan menyakitkan. 
Semuanya bukan untuk melukai atau merancangkan hal-hal yang buruk, justru melalui berbagai peristiwa itu Allah akan semakin menyempurnakan dan menunjukkan kekuatan yang tersembunyi dalam diri kita.
#Edc

source : here

Selasa, 24 April 2012

Cinta Tak Harus Memiliki


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci. Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya.

Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.” fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni. 
     
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah ,kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan."

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis,sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”???


Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati', merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

(Diambil dari Buku "Jalan Cinta Para Pejuang")

Kamis, 22 Desember 2011

Ikhwan GANTENG

Sobat, tadi aku abis lihat-lihat notesku di FB, terus nemu notes bagus nih, lupa dapetnya darimana, hehee
Cekidot yaaa ! :D

Bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apalagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

Gimana para ikhwan? Udah semua kriteria GANTENG belum dalam diri kalian? hehehee :)

Senin, 19 Desember 2011

Ada Diskusi Ada Aksi

Diskusi diskusi dan diskusi.. itu yang sering dilakukan mahasiswa dimanapun berada. Diskusi tentang politik, diskusi tentang masyarakat, diskusi tentang lingkungan, dan lain-lain. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan melalui diskusi. Karena melalui diskusi kita dapat bertukar pikiran dengan orang-orang yang kita ajak berdiskusi. Bagus memang, tapi bagaimana ketika kita hanya berdiskusi dan terus berdiskusi tanpa sebuah AKSI?

AKSI! Ya aksi, sebuah aksi nyata!

Terkadang kita dengar atau lihat dalam sebuah diskusi. Beberapa yang didiskusikan dalam diskusi itu seperti mencari-cari kesalahan orang lain, mengorek-ngorek peristiwa-peristiwa yang terjadi dan lain sebagainya tanpa ada usaha untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tanpa ada sebuah aksi nyata untuk memperbaiki berbagai kesalahan yang didiskusikan.

Ada memang beberapa hasil diskusi yang dibarengi dengan aksi nyata, namun, ketika tidak ada follow up untuk aksi nyata itu, apa gunanya?

Memang tak semudah membalikan telapak tangan melakukan aksi nyata untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi. Tapi, apa salahnya untuk memulai sedikit demi sedikit. Walau tak bisa memperbaiki semua, setidaknya ada manfaat yang dirasakan orang lain dari diskusi yang kita lakukan.

Ini mengingatkanku dengan sebuah kata 'TALK LESS DO MORE!' Ayo kita barengi diskusi dengan aksi!

ADA DISKUSI, ADA AKSI
BUKAAAAN BASA BASI~

Minggu, 18 Desember 2011

Kisah Cinta Luar Biasa

Sobat, ini nih kisah cinta Fathimah dan Ali yang aku janjikan tadi, cekidot yaa :)

Ada rahasia terdalam di hati ’Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis.

Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

’Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.

’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu? 
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” 
”Aku?”, tanyanya tak yakin. 
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”


Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Salim A. Fillah
Jalan Cinta Para Pejuang

Merasa Cukup, Cukup Merasa

Dua kata itu punya makna yang berbeda jika digabungkan dengan posisi yang berbeda pula. Namun, dua-duanya sama menariknya. "Merasa Cukup" adalah suatu sifat yang saat ini dianggap inferior oleh kebanyakan orang. Karena dengan merasa cukup, kita akan disisihkan zaman. Dianggap sebagai orang yang tak punya ambisi dengan posisi. Tak memiliki keinginan untuk menjadi yang lebih baik pada masa depan. Karenanya, merasa cukup adalah sifat yang unik sekarang.

Merasa cukup sejatinya suatu ungkapan syukur. Islam menyebutnya qanaah. Merasa cukup menjadi salah satu indikasi bahwa kita benar-benar berterima kasih atas segala nikmat yang Allah berikan. Bisa jadi, salah satu maraknya berbagi penyelewengan moral karena tidak pernah ada rasa cukup pada seseorang. Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya, sukses atau berhasil. Yang penting, cara memperolehnya adalah dengan "kewajaran". Ilmu kauniyahnya, ya kita harus bekerja keras, disiplin, rajin, dan kreatif idenya. Teori kauliyahnya bilang lewat shalat, shadaqoh, puasa, shalat sunnah, dan sebagainya. Dan cara ini bukan rahasia, karena kita sudah mengetahuinya. Tinggal mau atau tidak kita melakukannya.

Adapun "Cukup Merasa" juga menjadi fenomena. Ada begitu banyaknya kemiskinan, kesewenang-wenangan, dan kebodohan. Dan orang-orang yang kaya, punya kuasa, dan pandai yang ada, masih sedikit yang "turun gunung" untuk memberantas penyakit-penyakit tersebut. Mereka tahu dan merasakan bahwa ada yang salah di lingkungannya. Namun, nampaknya nuraninya belum tersentuh. Bagi mereka, "cukup merasa" sudah cukup. Padahal, itu sungguh masih jauh dari cukup.


sumber :
Akhda Afif Rasyidi
http://akhdaafif.wordpress.com/

Senin, 12 Desember 2011

Quotes from PW

Pas kalian baca judulnya pasti bingung deh (sok tau) siapa sih PW?
Ssstt.. aku ga akan sebut kalo kepanjangan dari PW itu Pak Wirman ahh, nanti terkenal bapaknya hehehee (itu disebut mbak ckck) XP


Aku suka aja diajarin sama si bapak satu ini, banyak pengalaman dia yang jadi pelajaran buat aku. Walau berjam-jam dia cerita, rasanya ga bosen aja, apalagi banyak quotes-quotes dia yang 'sesuatu' bangetlah hehehee :D


Udah yaa jangan kebanyakan intro, langsung ke reff quotes aja, cekidot yaaa


"Dalam keadaan STRESS, SUKSES"
"Kalau gak mau bermimpi, MATI aja!"
"Boleh ketinggalan, asal ketinggalan di tujuan"
"Cinta adalah bagian dari Lingkungan Hidup"
"Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku manusia"
"...diciptakanlah kesombongan-kesombongan yang tidak perlu"
"secara tidak sengaja sekarang ini orang kaya minta2 ke orang miskin"


Segitu aja nih kata-kata PW yang ada di aku, kayaknya masih ada lagi deh, tapi lupa nulisnya dimana (penyakit akut). Nanti kalo ada lagi, aku post lagi deh disini. :D

Jumat, 09 Desember 2011

Kritik Hanya Sekedar Mengkritik

Kritik? Apa sih kritik? Kritik singkong? Kritikin? Atau kalau rambutnya kritik direbonding? #ngaco. Kritik menurut Wikipedia adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kenapa tiba-tiba aku ngomongin soal ini? Hhhmm..
Saat ini banyak sekali orang yang JAGO mengkritik. Mengkritik mengkritik menggelitik tanpa memperbaiki. Kritik itu memang penting agar sesuatu yang dikritik dapat diperbaiki agar lebih baik. Namun, ketika kritik hanya sekedar mengkritik APA KATA DUNIA???
Kritik itu membangun sih, tapi kalau kesannya malah menjatuhkan tanpa mencari solusi dan turut andil pada sesuatu yang dikritik, apa tuh namanya? (pikir sendiri). Terlalu banyak mengkritik pekerjaan orang lain tanpa membantu apapun apalagi memberi solusi, itu apa lagi namanya? (pikir lagi sendiri).
Salah satu contoh yang bisa kita ambil, saat sebuah kegiatan dikritik habis-habisan oleh beberapa orang. Kegiatan itu dipertanyakan gunanya, diprotes kerjanya, diminta untuk segera dibubarkan. Ketika kritik itu dibarengi dengan solusi, dapat dikatakan itu baik. Tapi ketika kritik hanya sekedar mengkritik, itu NOL BESAR. Orang-orang yang mengkritik itu tidak turut andil dalam memperbaiki kegiatan tersebut. Mereka hanya berbicara seenaknya tanpa tau apa yang telah dilakukan orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut.
Itulah, kritik hanya sekedar mengkritik, tidak ada solusi, tidak ada aksi, apa namanya? (lagi lagi pikir sendiri).

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kebahagiaan Itu Menular


Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari, memanggil taksi, dan naik.

'Selamat pagi Pak,' katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu.
'Pagi yang cerah bukan?' sambungnya sambil tersenyum, lalu bersenandung kecil.
Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dengan senang hati ia melajukan taksinya.
Sesampainya di tempat tujuan, pemuda itu membayar dengan selembar 20ribuan untuk argo yang hampir 15ribu.

'Kembaliannya buat bapak saja, selamat bekerja Pak..' kata pemuda dengan senyum.
'Terima kasih...' jawab Pak sopir taksi dengan penuh syukur.

'Wah.. aku bisa sarapan dulu nih...' pikir sopir taksi itu. Dan ia pun menuju ke sebuah warung.

'Biasa Pak?' tanya si mbok warung.
'Iya biasa.. Nasi sayur... Tapi.. Pagi ini tambahkan sepotong ayam' jawab Pak sopir dengan tersenyum.

Dan, ketika membayar nasi, di tambahkannya seribu rupiah 'Buat jajan anaknya si mbok..' begitu katanya.

Dengan tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dengan senyum lebih lebar.

Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini, dan diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal.

Begitulah cerita bisa berlanjut.. Bergulir seperti bola salju...

Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu...
Begitu juga keluarga si mbok...
Teman2 si anak...
keluarga mereka...
Semua tertular kebahagiaan...

Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja disekitar kita.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan.
Siapkah kita menularkan kebahagiaan??

Bisa menerima itu adalah berkah. Tapi bisa memberi adalah anugerah.

Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat orang lain bahagia dengan keberadaan kita.

Mari selalu berbagi, semoga ada arus membahagiakan yang terus berputar, dan jangan pernah dengki dengan kebahagiaan yang dimiliki orang lain, apalagi berusaha menghilangkannya.



Sumber : Milis Indonesian Business Forum

Jumat, 14 Oktober 2011

Pertolongan Allah Itu Dekat :')

Assalamu'alaykum

     Sudah lama yaa, lama sekali, terlalu lama yaa (apasih dateng-dateng gaje).
     Hari ini rasanya nano-nano, manis asem asin, dari deg-deg seeeerr, dihantui rasa bersalah, sampai senang tak terkira karena 'sesuatu' yang hampir hilang tidak jadi hilang, mau tau gimana ceritanya? jangan kemana-mana tetap di opera van java, yaaaa eeeee #ngaco -,-'
     Begini ceritanya, kemarin (kamis tigabelas oktober duaribusebelas) aku mendapat kabar BAHAGIA karena hari jumat (hari ini) tidak ada praltikum Kimia Analitik 1. Sampai selesai kuliah jam terakhir aku masih bahagia, hingga kabar BURUK itu mengejutkanku dan teman-teman sekelasku, apakah itu?? --> "BU N*** MINTA JUMAT TETAP ADA PRETEST PRAK. KA 1 JAM 2, 3 PRETEST SEKALIGUS, 1 PRETEST 15 MENIT" <-- gileee baang baru bilang sore ini, dan disuruh belajar dari buku vogel yang belum kubeli. Rasanya bagai tersambar petir langsung koleps jegaaar jegeeerr (jadi sering ngomong koleps gara2 mams in*). Aslab pernah bilang kalau TIGA PRETEST dibawah 60 tidak boleh ikut praktikum, kalau begitu, besok harus di atas 60 semua nilai prestestnya, tapi kalau soalnya dari buku yang tidak aku punya?? -,-'. Aku bersama teman-teman sekelas pun menggila mempersiapkan perang pretest tersebut dan akhirnya kami merencanakan membakar diri belajar bersama jumat pagi sebelum pretest. Aku sedikit tenang disini, sampai kabar buruk ke dua dataaaang #jegaaarjegeeerr --> kadept **tr*p menanyakan soal uang yang aku terima jumat minggu lalu <--. Astaghfirullah aku baru ingat kalau jumat minggu lalu (tujuh oktober duaribusebelas) aku menerima uang dari mahasiswa duaribusebelas, dan kalian tau berapa nominal uangnya?? ENAM RATUS RIBU~ #lemeeeeess dan aku lupa dimana meletakkan uang itu #makinlemess :'(
     Aku PANIK setengah tiang mati, aku benar-benar lupa, dan setelah aku tanya orang-orang yang ada disekitarku jumat minggu lalu itu, tidak ada yang tau soal uang itu, aku merasa sangaaaat bersalah, aku merasa sungguh ceroboh, aku tak bisa berkonsentrasi belajar untuk pretest prak. KA1, aku takut. Untungnya orang-orang disekitarku menenangkanku, aku pun sedikit tenang, hingga saat sampai di rumah rasa takut itu muncul lagi, aku merasa sangat sangat sangat bersalah atas hilangnya uang itu, aku berfikir bagaimana cara aku mengganti uang itu, enam ratus ribu, bagaimana bisa aku menggantinya, tidak mungkin aku menceritakan hal ini pada orangtuaku :'(
     Aku tak bisa tenang malam itu, rasa bersalah terus saja menghantuiku, belajar untuk pretest KA dengan buku praktikum pun aku tak bisa berkonsentrasi. Hingga tengah malam aku masih berusaha untuk mengingat dimana aku meletakkan uang itu, tapi tetap saja tak bisa. Aku pasrah, aku serahkan masalah uang itu pada Allah, kalau aku masih berjodoh dengan uang itu, insyaAllah uang itu ketemu. Aku coba untuk tenang, beristighfar, dan minta petunjuk Allah dalam tangisku, sampai akupun tertidur.
     Malamnya aku bermimpi aku menemukan uang itu di dalam loker **tr*p. Sayang sekali itu hanya sebuah mimpi, hanya bunga tidur. Aku terbangun, shalat subuh dan tak henti aku memohon pertolongan Allah untuk dua kabar buruk kemarin dalam doaku. 
        
                                                               ***

     Pretest hari ini sungguh mengaduk-aduk perasaanku, mengoyak, merobek dan membuaaang perasaanku #lebaay. Aku duduk di bangku paling depan, di hadapan LIMA ASLAB, sungguh posisi tempat duduk yang amat BAGUS. Yaaa setidaknya aku sudah berusaha mempelajari materi dari buku praktikum dan belajar bersama teman-temanku, masalah hasil aku pasrahkan pada Allah, karena hanya Dia yang tau yang terbaik untukku. Aku berusaha untuk tak mengingat masalah uang itu saat menjelang pretest agar aku bisa berkonsentrasi. Tapi, setelah pretest, rasa bersalah itu makin menghantuiku :'(
     Sampai tiba-tiba saat ku berada di bemj, seorang kakak berkata "ini bukan uangnya?". Subhanallah, Alhamdulillah, ya Allah.. benaaar itu uangnyaaa. Uang itu berada di dalam kardus, ternyata aku memang tak menitipkan uang itu pada siapapun, aku meletakkannya begitu saja (paraaah banget cerobohnya), Alhamdulillah masih berjodoh dengan uang itu. Terima kasih Ya Allah, aku yakin Engkau pasti menolongku. Sekarang ga takut lagi deh ketemu kadept **tr*p hahahahaa. Ini pelajaran berharga buatku, sebaiknya lain kali jangan menitipkan uang padaku, aku terlalu ceroboh, tapi semoga saja ini kecerobohanku yang terakhir (aamiin).
     Ya Allah seneeeeng bangeet, mau sujud syukur, mau lompat-lompat, mau teriaaaaak. Sekali lagi terima kasih ya Allah, begitu banyak pertolonganMu untukku. Terima kasih juga untuk kakak-kakak dan teman-teman yang menenangkanku dan memberi aura positif untukku, terutama Izzah dan Ka Dinda, makasi banget yaa #peyukcium :* seneeng bisa punya kalian :')
     Jadi ingat surat Al-Baqarah : 214
     Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Minggu, 02 Oktober 2011

Sebuah Pelajaran

Assalamu'alaykum

      Sepertinya semenjak masuk nguli aku terlalu sibuk (sok banget) sampai-sampai ga pernah nge-post lagi. Sebenernya banyak banget cerita yang ingin aku post, hanya saja itu baru sebuah niat yang tak terlaksana-terlaksana, ckckck. Baiklah jangan terlalu banyak bicara, aku ingin menceritakan sebuah peristiwa sangat singkat tapi memberi sebuah pelajaran di tempat cuci tangan di sebuah tempat makan dekat kampus, sebut saja emcede.
      Ada seorang nenek-nenek bersama cucunya (mungkin) mencuci tangannya di sebelahku. Saat nenek itu sedang mencuci tangannya dengan sabun, keran yang awalnya dinyalakan oleh cucunya dimatikan oleh cucunya pula.Tak lama cucunya itu pergi ke dalam kamar mandi menghampiri adiknya, nenek itu ditinggal sendiri. Aku pun sedang mencuci tangan tepat disebelah nenek itu. Selesai nenek itu menyabuni tangannya, ia ingin membilasnya dengan air keran, ia mencoba memutar keran namun air tak keluar-keluar dari keran. Aku ingin menyalakan kerannya, tapi aku ingin tahu bagaimana respon pria yang menunggu dibelakang nenek itu. Pria itu sepertinya sudah tidak sabar, ia pun mengatakan 'di angkat ke atas kerannya' kepada nenek itu. Aku fikir pria itu akan membantu menyalakan kerannya juga, ternyata tidak, pria itu HANYA BICARA dan nenek itu masih sibuk memutar-mutar keran kebingungan. Aku yang berada disebelah dan sudah selesai mencuci tangan 'geregetan' melihat pria yang tidak sabar dan hanya bicara itu. Aku pun menyalakan keran tempat cuci tangan nenek itu. Nenek itu pun berkata 'oh dinaikin begitu kerannya'.
      Dari peristiwa itu, aku pun mengambil sebuah pelajaran yang sebenarnya seringkali terjadi, hanya saja baru di peristiwa ini aku menuliskannya, pelajaran itu adalah --> JANGAN HANYA BICARA, BERGERAK!. Ya begitulah manusia sekarang kebanyakan, hanya bicara bicara dan bicara tanpa bergerak, layaknya pemerintah yang hanya janji janji dan janji tanpa ada bukti yang berarti. Selain itu, ada satu lagi pelajaran yang aku ambil, untuk mengajari orang lain TIDAK HANYA dari TEORI tapi PRAKTIK.
      Dan ngomong-ngomong soal praktik, minggu depan aku sudah mulai praktikum. Jadi, hari-hariku akan ditemani pacar-pacarku tercinta (HVS A4, pulpen, papan jalan). 

Minggu, 15 Mei 2011

Tipus




Penyakit tifus atau Typhoid fever, sering disebut juga dengan enteric fever, bilious fever atau Yellow Jack, disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyebaran penyakit ini diperantarai makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses dari orang yang menderita tifus. Kemudian, bakteri akan berkembang dalam jaringan darah dari orang yang terinfeksi. Bakteri ini termasuk ke dalam bakteri Gram negatif yang berbentuk batang dan bergerak menggunakan flagela yang tumbuh cepat pada suhu badan manusia (37ºC).

Gejala yang ditimbulkan penyakit ini adalah panas dengan suhu hingga 40ºC (104ºF), terjadi gastro enteritis serta diare tanpa disertai darah. Sedikit diantaranya menunjukkan adanya spot atau bercak dengan warna merah. Ada juga yang terinfeksi, akan tetapi tidak menunjukkan gejala, penderita ini disebut dengan asymptomatic carrier dari tifus. Carier atau pembawa dapat menularkan infeksi ini pada orang lain.

Gejala tifus dibagi menjadi empat tahap :
Ø  Pada minggu pertama, kenaikan temperatur demam sangat pelan, yang diikuti dengan bradikardia yaitu denyut jantung kurang dari 60 per menit, sakit kepala, dan batuk. Selain itu, dapat terjadi epistaksis atau mimisan yang muncul pada seperempat kasus dan juga timbul rasa sakit pada daerah perut. Adanya bakteri ini pada darah menyebabkan leukopenia (turunnya jumlah granul eosinofil darah) dan limfositosis (meningkatnya jumlah limfosit pada darah). Diagnosis pada minggu pertama dengan tes Widal, merupakan tes serologi untuk mengetahui adanya infeksi Salmonella, akan memberikan hasil yang negatif.
Ø  Pada minggu kedua dari masa infeksi, akan terjadi panas yang tinggi yang terkadang disebut dengan “nervous fever” dan bradikardia yang disebut dengan Sphygmo-thermic dissociation. Terkadang muncul bercak merah pada daerah di bawah dada dan daerah perut, di mana hal ini hanya terjadi pada 1/3 dari pasien yang menderita tipus. Pada minggu kedua ini juga bisa terjadi diare enam hingga delapan kali perhari, dengan warna kehijauan dan bau yang khas, akan tetapi konstipasi juga bisa terjadi. Kadang terdengar suara dari perut yang diakibatkan oleh pergerakan gas di dalam intestin yang disebut dengan “Borborygmus”. Pembesaran hati akan terjadi jika telah maemasuki minggu kedua ini. Pada tahap inilah tes Widal dapat menunjukkan hasil yang positif.
Ø  Pada minggu ketiga, terjadi komplikasi diantaranya:
- Terjadi pendarahan pada daerah Payer’s patches yang serius tapi tidak fatal
- Septicaemia (keracunan pada darah) atau peradangan pada daerah peritonium yang merupakan membran pada daerah perut
- Enchephalitis yaitu terjadi inflamasi akut pada otak akibat infeksi bakteri atau virus
- Abses atau luka. 
Tipus ini tergolong pada kasus yang tidak fatal. Untuk pengobatannya, biasanya digunakan antibiotik seperti ampisilin, klorampenikol, trimetoprim-sulfametoxazole, dan ciprofloxacin. Jika tidak dilakukan pengobatan, panas dapat berlangsung selama tiga minggu hingga satu bulan dan dapat berakhir pada kematian. Penggunaan antibiotik perlu diperhatikan agar tidak terjadi resistensi, yaitu tidak menghentikan penggunaan antibiotik sampai satu kali resep yang telah diberikan habis. Untuk pencegahannya, harus diterapkan pola hidup bersih. Hal ini merupakan hal wajib seperti yang telah disampaikan pada artikel lain pada buletin ini. [Agustin]



Rabu, 23 Maret 2011

Bunga krisan (Seruni ) berkhasiat

Aku nemu tulisan bagus nih, tentang Bunga Seruni, yaa Seruni seperti nama belakangku (rara Seruni)


Tanaman bunga krisan selain terkenal sebagai tanaman bunga potong atau bunga hias, juga mempunyai manfaat lain yaitu sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga.

Nama Ilmiah: Chrysanthemum indicum L.

Nama Daerah: Jawa: Krisan, Seruni

Klasifikasi botani tanaman hias krisan

* Divisi : Spermathophyta

* Sub Divisi : Angiospermae

* Famili : Asteraceae

* Genus : Chrysanthemum

* Species : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll

Kandungan Kimia

Daun dan bunga krisan mengandung saponin, di samping itu daunnya mengandung alkaloida dan tanin, sedang bunganya juga mengandung minyak atsiri.

Khasiat



Bunga krisan berkhasiat sebagai obat sakit bengkak pada mata dan untuk obat luka. Untuk obat bengkak mata dipakai + 10 gram bunga krisan, dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih lalu dinginkan sampai hangat-hangat kuku. Air hasil rebusan digunakan untuk merendam atau mengkompres mata yang sakit.

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget